Gue masih ingat betul malam itu. Anak gue yang baru kelas 3 SD tiba-tiba diam aja di pojok kamar, gak mau makan, dan matanya kosong. Padahal paginya masih loncat-loncat minta dibeliin layangan. Gue kira cuma capek main. Ternyata tiga hari kemudian dia demam tinggi dan baru ketahuan kalau dia habis dipukul sama anak yang lebih besar di sekolah. Selama tiga hari itu, gue gak ngeh. Gue sibuk sama warung, sibuk sama kerjaan, dan gue pikir anak gue baik-baik aja.
Dari situ gue sadar satu hal: masalah keluarga dan pengasuhan itu jarang datang tiba-tiba. Selalu ada tanda-tanda awal. Masalahnya, kita sering telat sadar. Apalagi buat kita yang tinggal di kampung atau kota kecil, di mana urusan keluarga kadang dianggap urusan privat yang gak perlu dibicarakan ke orang lain. "Ah, anak gue cuma lagi nakal," atau "Namanya juga anak-anak, besok juga baik lagi." Padahal kalau terus dibiarkan, bisa jadi bom waktu.
Nah, kali ini gue mau cerita soal tanda-tanda awal yang menurut gue paling sering kelewat, khususnya buat kita yang tinggal di desa atau kota kecil. Bukan buat nakut-nakutin, tapi biar kita lebih peka. Karena sering banget, tanda-tandanya udah ada di depan mata, cuma kita yang males ngeliat.
Baca juga: Anak Nggak Mau Cerita? Coba Ubah Cara Kita Mendengarkan
Anak yang Tiba-Tiba Berubah, Jangan Dianggap Angin Lewat
Perubahan perilaku itu tanda paling jelas, tapi paling sering diabaikan. Anak yang biasanya cerewet tiba-tiba pendiam. Anak yang biasanya doyan makan tiba-tiba gak mau makan. Anak yang biasanya gampang tidur tiba-tiba susah tidur atau malah kebanyakan tidur. Ini bukan berarti anak lagi "manja" atau "cari perhatian".
Gue pernah denger tetangga gue bilang, "Anak gue sekarang gak pernah cerita lagi sepulang sekolah. Dulu cerita terus." Dia anggap itu biasa karena anaknya udah gede. Padahal anaknya baru kelas 5 SD. Menurut gue, itu lampu kuning. Anak yang berhenti cerita biasanya bukan karena gak punya cerita, tapi karena merasa gak ada yang mau dengerin.
Di kota kecil dan desa, kita sering banget nganggep anak yang pendiam itu "anak penurut". Padahal belum tentu. Bisa jadi dia lagi nahan sesuatu. Coba deh, sesekali temenin dia tanpa nanya-nanya. Kadang anak baru buka mulut kalau kita diam juga.
Perhatikan juga perubahan di sekolah
Nilai turun drastis, males ke sekolah, atau tiba-tiba sering minta uang lebih banyak tanpa alasan jelas. Ini bisa jadi tanda ada masalah di sekolah, entah itu teman, guru, atau bahkan bullying yang gak kelihatan. Gue pernah baca cerita di grup WA kampung, ada anak yang minta uang terus-terusan ke orang tuanya, ternyata buat "damai" sama anak yang suka ngejek dia. Orang tuanya baru tahu setelah berbulan-bulan.
Komunikasi yang Mulai Kaku di Rumah
Ini yang sering gue rasain sendiri. Awalnya anak masih mau cerita apa aja. Lama-lama jawabannya cuma "iya", "gak", "biasa aja". Kalau ditanya lebih jauh, dia masuk kamar. Kalau udah begini, jangan langsung marahin atau nuduh dia gak sopan. Coba cek dulu, apakah kita sebagai orang tua masih sempat duduk bareng dia tanpa sambil main HP?
Di kampung, biasanya rumah ramai sama banyak orang. Tapi ramai belum tentu hangat. Kadang anak dikelilingi banyak orang, tapi gak ada satu pun yang benar-benar ngobrol sama dia. Ini yang sering kelewat. Kita pikir karena anak main sama sepupu dan tetangga, dia pasti seneng. Padahal bisa jadi dia cuma ikut-ikutan biar gak dianggap aneh.
"Anak yang paling jarang ngeluh biasanya yang paling butuh didengerin."
Gue percaya banget sama kalimat itu. Anak yang selalu bilang "gak apa-apa" padahal jelas ada yang salah, itu yang paling bahaya. Kita perlu belajar baca bahasa diam mereka.
Kita Sendiri yang Mulai Berubah, Sering Gak Sadar
Ini bagian yang paling gak enak buat dibahas. Kadang tanda masalah keluarga bukan dari anaknya, tapi dari kita sebagai orang tuanya. Kita jadi gampang marah, gampang capek, gak sabar, dan mulai ngomong kasar. Kalau udah begini, biasanya bukan karena anaknya yang salah, tapi karena kita yang kelelahan dan gak punya tempat buat cerita.
Gue pernah di fase ini. Setiap anak bikin salah sedikit, gue meledak. Istri gue sampe bilang, "Kamu tuh sekarang kayak bukan bapaknya." Itu nyakitin, tapi bener. Dan yang lebih parah, anak-anak mulai takut sama gue. Mereka nurut bukan karena sayang, tapi karena takut. Itu beda banget rasanya.
Kalau kamu mulai ngerasa sering marah tanpa alasan jelas, atau mulai ngindar dari waktu bareng keluarga, itu tanda awal yang perlu diwaspadai. Bukan berarti kamu orang tua yang gagal. Tapi berarti kamu butuh istirahat, butuh cerita, butuh bantuan. Di desa, mungkin gak ada psikolog. Tapi minimal cerita ke pasangan, ke saudara, atau ke teman yang bisa dipercaya.
Jangan Tunggu Sampai Jadi Besar
Masalah keluarga itu ibarat atap bocor. Kalau cuma bocor sedikit dan dibiarkan, lama-lama seluruh rumah rusak. Tapi kalau cepat ditambal, cuma butuh satu genteng. Begitu juga dengan tanda-tanda awal yang gue sebutin di atas. Kalau cepat disadari dan ditangani, biasanya masih gampang.
Yang paling penting menurut gue: jangan pernah ngerasa sendirian. Di kampung dan kota kecil, kita punya satu hal yang jarang dimiliki orang kota, yaitu tetangga yang kenal kita sejak kecil. Manfaatkan itu. Sesekali cerita ke orang yang kamu percaya. Gak perlu cerita detail, cukup bilang, "Gue lagi capek ngurus anak, ada saran gak?" Kadang obrolan ringan di warung atau di pos ronda bisa jadi penyelamat.
Dan yang terakhir, coba deh mulai hari ini, duduk bareng anak kamu lima menit aja. Tanpa HP, tanpa nanya PR. Cuma temenin dia. Kadang dari situ, tanda-tanda yang tadinya gak kelihatan jadi kelihatan. Dan kita baru sadar, ternyata anak kita udah lama nunggu momen sesederhana itu.
Gue nulis ini bukan karena gue udah jago jadi orang tua. Justru karena gue pernah hampir kehilangan momen penting sama anak gue sendiri. Kalau kamu ngerasa ada yang gak beres di rumah, percaya sama insting kamu. Jangan tunggu sampai semuanya telat.